Kamis, 06 Desember 2018

Manekung


Manekung
Karya: Rudi Nur Biantoro

Tenang hilang kosongkan fikiran
Jernih putih, tak berkelombang
Lampaui bawah sadar 
Ulu hati berguncang meneriakkan 
Allah

Grogolan dusta tuliskan di pojok kalbu
Seonggok demi onggok ambillah
Sebutir demi butir jimpitlah
Segenggam demi genggam remaslah

Memang sebatas angan tak lebih
Namun bakarlah dengan ilAllahmu
Melakukan tanpa memikirkanya
Tak ingat apapun namun kau sadar
Mati namun kau hidup
Hidup tapi kau mati
Hanyut dalam ketenangan


Puisi yang bertajup MANEKUNG ini menggambarkan sebuah pernyataan bahwa Allah itu terasa dengan di percayai.  Ketika mereka mempercayai tuhan secara mutlak maka tidaklah kamu bertanya tanya tentang keberadaannya. 
Namun ketika mencariNya jangan ingat apapun selainNya. Jangan ingat dengan apa yang di ciptakanNya cukup dengan mempercayai bahwa ialah yang maha segalanya.  
 Jika sudah mencintainya maka ia akan mencintaimu. Ketika Allah sudah mencintaimu maka dengan jalan apapun kamu akan di tolong nya. 

Minggu, 25 November 2018

Mental Cemen Mahasiswa

"Sesekali ku bertanya pada ayahku apakah ayah tahu tentang pengetahuan yang saya miliki"
 Berawal dari keyakinan akan kebisaanku dalam menerima materi yang di berikan oleh guru. Aku sangat berkeinginan untuk melanjutkan studyku. Dengan biaya yang seadanya dan pengetahuan yang tidak seberapa, aku sangat yakin akan dapat melanjutkan sekolahku. Dan benar sekali aku sudah menjadi mahasiswa setelah melewati semua tes. Kini aku belajar di progam study pendidikan matematika.  Dan tingkat satu sudah terlewatkan. 
 Namun dalam hari hariku aku merasa bahwa kesombongan mulai bertumbuhan dalan diriku.  Hal ini kusadari ketika bapakku berkata padaku "nak, bapak tidak bisa menjadikan kamu apapun selain idaman surga,  bapak hanya bisa mendoakanmu dan memberimu beberapa biaya semampu bapak,  uruslah dirimu nak". Kesombongan itu tumbuh karena semua orang yang ada di sekitarku berendah diri di hadapanku,  aku merasa bahwa aku lah yang paling ter....  Di situ. Aku merasa lebih pintar karena aku yang bisa belajar tinggi,  aku yang bisa menimba ilmu lebih banyak dari mereka.  Namun mereka menyembunyikan hal itu dariku, yang sebenarnya mereka sangat mengetahui hal itu. 
  Setelah bapakku menyadarkan akan hal buruk itu dariku, aku sangat bersedih dan sakit hati karena diriku sendiri.  Bukan soal mudah mengetahui hal itu.  Seketika aku merasa menjadi bodoh dan serendah rendahnya manusia di antara mereka yang mencintaiku.  
  Hingga beberapa hari aku merenung bahwasanya inilah yang membuat bangsa kita melonjak kebawah,  membuat bangsa kita mlorot,  membuat bangsa kita sulit untuk maju, membuat generasi pemimpin bermental cemen. Maka janganlah merasa lebih pintar dari orang yang lebih tua.  Ketika kita sarjana pertanian jangan pernah merasa lebih pintar dari pada petani, ketika menjadi sarjana pelaut jangan pernah merasa pintar daripada nelayan. Karena kita akan terjerumus pada otak cemen kita sendiri.  
  Itulah pengalaman ku yang kudambakan akan ku sebar luaskan kepada pemuda di negeri ini

Terima kasih sudah membacanya, aku sanagat senang ketika setelah membaca tulisan di atas kita sadar bahwa menjadi penerus tidak lah mudah.